The implementation of e-learning in Indonesia’s higher education towards the actualization of Generation E

Jaringan internetPeran jaringan internet sebagai bagian dasar dari Teknologi Informasi dan Komunikasi (ICT) dewasa ini telah mengalami perkembangan yang cukup signifikan dan memberikan kontribusi yang begitu besar dalam meningkatkan kualitas hidup manusia dalam berbagai sektor kehidupan. Di samping itu,tidak dapat dipungkiri juga bahwa kini telah tersedia banyak sekali tawaran yang memudahkan kita dalam mengerjakan berbagai kegiatan sehari-hari,layaknya transaksi perbankan yang kini dapat dilakukan di mana pun dengan memanfaatkan fasilitas jaringan internet , reservasi tiket, bahkan para mahasiswa kini dapat tetap belajar dan memantau aktivitas perkuliahan dari rumah dengan memanfaatkan fasilitas elearning yang akhir-akhir ini sedang gencar-gencarnya dikembangkan oleh sebagian besar universitas baik negri maupun swasta di seantero nusantara. Tawaran akan kemudahan-kemudahan ini hadir begitu saja laksana jamur yang bermunculan di musim hujan. Hebatnya lagi,semua kemudahan ini ditawarkan kepada semua orang tanpa mempedulikan status sosial, jenjang pendidikan, jenis pekerjaan, hobi, atau apapun juga. Ini semua jelas dapat kita nikmati bersama sebagai bukti nyata dari perkembangan ICT yang begitu pesat. Selanjutnya kita akan membahas secara lebih spesifik salah satu bentuk pemanfaatan jaringan internet dalam bidang pendidikan, yakni penerapan elearning sebagai salah satu sarana dalam aktivitas belajar mengajar bagi para pelajar (khususnya mahasiswa) di Indonesia.

Pemahaman tentang pemanfaatan elearning bagi para mahasiswa merupakan salah satu pengetahuan dasar dalam menjalankan aktivitas perkuliahan yang sepatutnya dikuasai dan dipahami oleh setiap mahasiswa. Hal ini dikarenakan oleh begitu banyaknya manfaat dan kemudahan-kemudahan yang ditawarkan oleh fasilitas elearning,diantaranya:

1. Fleksibilitas

Fleksibilitas merupakan salah satu manfaat penting yang menjadi motivasi utama sebagian besar mahasiswa menggunakan elearning. Dengan elearning, mereka dapat belajar di mana pun mereka sukai selama terhubung dengan internet. Mereka juga dapat melakukan diskusi dengan mahasiswa dari universitas lain di seluruh Indonesia melalui suatu situs atau blog yang didedikasikan untuk pengembangan pendidikan.

2. Standardisasi.

Pemberian standard terhadap mutu pendidikan kerap kali mengalami kesulitan dikarenakan pola penyampaian materi pelajaran dari para pengajar sering kali berbeda dan dilakukan dengan cara masing-masing. Oleh karena itu,dengan elearning materi pelajaran setidaknya telah menjadi sesuatu yang lebih baku dan memiliki standard yang lebih jelas. Selain itu juga dapat direvisi kapan saja demi kualitas yang lebih baik.

3. Perubahan kebiasaan

Mahasiswa yang biasanya hanya belajar secara pasif di kelas dan menerima materi secara utuh dari para dosen dengan elearning dituntut untuk lebih aktif mencari materi pelajaran dan literatu-literatur lain dari internet.

4. Personalisasi.

Mahasiswa memiliki kemampuan penalaran dan daya serap yang berbeda satu dengan yang lainnya. Mahasiswa yang malu bertanya (mungkin juga dikarenakan gengsi) menjadi terbelakang dan tertinggal dalam penguasaan materi pelajaran. Oleh karena itu,dengan elearning mereka dapat belajar kapan pun mereka mau dan materi pelajaran dapat direview kapan pun dan terkesan lebih “pribadi” sehingga dapat lebih memantapkan penguasaan terhadap suatu materi pelajaran.

5. Ekonomis

Salah satu beban umum para mahasiswa adalah tingginya harga buku-buku pelajaran sehingga sering kali tidak mampu terbeli. Dengan elearning,materi dapat digunduh dengan harga yang jauh lebih murah atau bahkan sama sekali tanpa biaya. Mahasiswa hanya cukup membayar biaya internet yang kini juga telah lebih murah.

6. Efektivitas

Pendistribusian materi pelajaran akan menjadi lebih cepat dan efektif serta efisien, karena pelajaran tersebut dapat dengan cepat disampaikan melalui Internet, bagi mereka yang tinggal jauh dari perguruan tinggi

Akan tetapi, penerapan elearning kerap kali memiliki hambatan-hambatan yang menyebabkan terkadang elearning sulit untuk diterapkan secara lebih konsisten dan independen dalam sistem perkuliahan di Indonesia. Hambatan-habatan itu antara lain adalah:

1. Ekonomi

Masalah ekonomi merupakan masalah yang vital di Indonesia. Pengadaan fasilitas elearning memakan biaya yang cukup banyak dan hal ini belum tentu dapat dijangkau oleh semua lembaga pendidikan (khususnya universitas-universitas) di Indonesia.

2. Penguasaan Teknologi

Di Indonesia sendiri masih cukup banyak para pelaku pendidikan dan mahasiswa yang kurang memahami penggunaan internet. Fakta ini tidak hanya disebabkan oleh kecenderungan masyarakat yang malas mempelajari hal-hal baru,yang dalam konteks ini adalah internet, tetapi juga diakibatkan oleh tidak adanya fasilitas komputer dan layanan internet yang memadai atau mungkin juga tidak tersedianya biaya untuk internet.

3. Teknologi,sarana dan pra sarana

E-learning membutuhkan perangkat komputer, jaringan yang handal, dan teknologi yang tepat. Akan tetapi, belum semua Perguruan Tinggi memiliki teknologi dan infrastruktur tersebut.

4. Budaya

Pemanfaatan e-learning membutuhkan budaya belajar mandiri dan kebiasaan dalam pemakaian komputer dan belajar melalui komputer. Akan tetapi sebagian besar mahasiswa dan tenaga pendidik masih terpatri dengan sistem pendidikan klasik yang bersifat pasif. Pengaruhnya adalah bagi mahasiswa yang kurang aktif dan tidak memiliki motivasi belajar yang tinggi akan kesulitan dalam perkembangannya atau bahkan mengalami kegagalan. Selain itu, budaya lisan lebih berkembang dengan baik di indonesia,dimana penyampaian gagasan secara lisan dipandang lebih praktis dan efisien. Penguasaan mahasiswa terhadap penyampaian gagasan melalui format tulisan yang rapi dan sistematis masih perlu ditingkatkan.

Perkembangan sistem pendidikan yang berbasiskan elearning ini memang sungguh revolusioner dan menghadirkan babak baru dalam mekanisme penyelenggaraan pendidikan, tidak hanya di Indonesia saja melainkan juga di seluruh penjuru dunia. Sebenarnya,bertolak belakang dari hal inilah kita dapat semakin memaksimalkan fungsi dan kinerja dari elearning itu sendiri karena kita cukup mengadopsi penerapan dan mekanisme kerjanya dari negara-negara maju yang telah terlebih dahulu berkomitmen menerapkan sistem elearning secara lebih profesional dan konsisten sehingga menghasilkan suatu sistem pendidikan yang lebih berkualitas, solid, dan independen tanpa mengurangi nilai esensial dari makna dan tujuan pendidikan itu sendiri. Ironisnya, langkah ini tidak dapat diadopsi dan diimplementasikan secara utuh di Indonesia. Hal ini dikarenakan oleh beberapa kendala atau hambatan yang telah disebutkan di atas yang notabenenya tidak dimiliki oleh negara-negara maju tersebut. Selain itu, pendidikan di Indonesia cenderung bersifat statis dan tidak memiliki standarisasi dan pedoman yang baku. Contoh riilnya tampak dari seringnya satu kurikulum pendidikan berganti dengan kurikulum yang lain yang justru hanya melahirkan ketidakefisiensian penyelenggaraan pendidikan. Ini juga merupakan salah satu faktor yang menyebabkan sulit berkembangnya suatu sistem pendidikan baru yang cukup revolusioner seperti elearning di Indonesia. Oleh karena itu, permasalahan ini harus dapat dipecahkan dengan segera agar sistem pendidikan yang berbasiskan elearning dapat berkembang dengan baik dan memberikan kontribusi yang maksimal dalam meningkatkan kualitas penidikan di Indonesia. Menurut pemikiran saya sendiri, ada beberapa hal yang perlu dibenahi untuk mencapai tujuan ini.

1. Peran Pemerintah

Pemerintah merupakan penyelenggara utama sistem pendidikan di Indonesia. Oleh sebab itulah berhasil atau tidaknya penerapan elearning di Indonesia sangat berkaitan erat dengan keseriusan pemerintah menjalankan program ini. Sebenarnya,dengan dana pendidikan yang dialokasikan sekitar 20% dari jumlah total APBN Indonesia tahun 2009 bila digunaka sedikitnya 5%nya saja untuk mengembangkan infrastruktur dan teknologi internet. Pembangunan infrastruktur ini menurut saya meliputi peningkatan kualitas sebaran jaringan serat optik bawah laut yang telah ada supaya lebih menjangkau daerah-daerah tertinggal, khususnya lagi yang menghubungkan universitas satu dengan universitas lainnya di seluruh Indonesia. Dapat juga dilakukan dengan cara membangun hot spot – hot spot dan memberikan jasa internet gratis bagi seluruh lapisan masyarakat di tempat – tempat asa pelayanan publik,lebih bagus lagi jika dihadirkan PNS untuk membimbing ”kaum buta” internet dalam menggunakan fasilitas itu. Selain itu, akan lebih baik juga jika pemerintah mengadakan jasa warung internet yang mendapatkan subsidi dengan prioritas daerah pedesaan terlebih dahulu. Masalahnya selama ini hanya pihak swasta yang mengadakan warung internet untuk segi bisnis,sehingga daerah pedesaan yang mereka nilai kurang memiliki prospek pasar yang menguntungkan tidak mereka jamah sama sekali. Bagi para mahasiswa kurang mampu, pemerintah juga dapat mengadakan semacam kredit kepemilikan komputer desktop maupun laptop dengan bunga yang rendah atau bahkan nol persen. Hal ini jelas – jelas akan sangat membantu peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia, khususnya dalam rangka mengembangkan sistem pendidikan berbasiskan elearning.

2. Peran Mahasiswa

Mahasiswa sebagai subjek dan objek dari pendidikan tinggi juga dituntut untuk memberikan kontribusinya secara langsung dan aktif serta dengan lebih berkomitmen menyikapi perkembangan jaman, khususnya perkembangan teknologi yang terkait dengan pendidikan secara langsung. Langakah praktisnya adalah dengan sedikit banyak mulai belajar memaksimalkan penggunaan fasilitas yang telah diberikan oleh pihak universitas (bila ada). Selain itu dapat juga dilakukan melalu pembuatan blog pendidikan sesuai dengan jurusan dan bidang yang dikuasai yang dipublikasikan secara luas agar dapat diakses oleh semua mahasiswa yang membutuhkan informasi yang bersesuaian. Dapat juga dilakukan melalui fasilitas chating yang terfokus pada bidang penguasaan ilmu tertentu. Memang, semua ini hanya dapat berlangsung bila dan hanya bila telah muncul kesadaran dan motivasi yang kuat dari dalam diri mahasiswa.

3. Universitas

Universitas yang memang telah mengadakan elearning untuk mahasiswanya perlu mengevalusi kembali pelaksanaan elearning selama ini dan berusaha untuk memperbaikinya. Materi pembelajaran perlu dikemas secara menarik dan bersifat learner center. Perguruan Tinggi yang belum menyediakan elearning perlu berinisiatif untuk mengembangkannya. Yang perlu dipertimbangkan adalah tujuan pengadaan elearning. Jika elearning dihadirkan untuk menggantikan kelas konvensional, hal itu tampaknya kurang realistis. Mungkin dapat dilakukan oleh universitas yang terkemuka, sebagai pioner, tetapi universitas lainnya dapat mengembangkan elearning hanya sebatas untuk menunjang kegiatan perkuliahan di kelas saja.

Dengan melihat fakta – fakta yang ada saat ini, saya sangat berharap semua pihak lebih serius lagi dalam menyikapi proses penyelenggaraan pendidikan supaya arah dan tujuan dari pendidikan di Indonesia menjadi lebih baik, terutama pengembangan pola pendidikan yang revolusioner berbasiskan elearning ini yang sedang mengantarkan Indonesia pada babak baru sistem pendidikan yang lebih cerdas, mandiri, dan berkualitas. Pemerintah sebagai tonggsk pendidikan, universitas sebagai lembaga pendidikan, dan mahasiswa sebagai subjek dan objek dari pendidikan harus menjalankan perannya masing – masing dengan lebih baik lagi. Semoga saja sarana pendidikan di Indonesia dapat lebih ditingkatkan sehingga dapat menjadi surga bagi para pencari ilmu yang benar – benar berkomitmen dengan tujuannya.



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s